Total Tayangan Laman

Selasa, 18 Desember 2012

PENDIDIKAN DAN KONFLIK SOSIAL DI SEKOLAH

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas individu Matakuliah Sosiologi Pendidikan
Dosen Pengampu: Dr. Sabarudin, M. Si.


Disusun Oleh:
Mukhamat Munshorif    (19/ 10411062)
KELAS V PAI B

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALI JAGA
YOGYAKARTA
2012
KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah swt, sebagai Tuhan penguasa bumi dan langit serta semua yang ada diantara keduanya. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, para sahabat dan pengikut setianya, yang telah membuka penglihatannya dan berpegang teguh kepada ajaran-ajaran agama Islam.    
Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, dapat memberikan wawasan, baik untuk pribadi serta orang lain yang berhubungan dengan pendidikan dan konflik sosial di sekolah yang lebih bermakna.
Pemakalah menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal sistematika penulisannya  dengan berpegangan bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah swt, maka dengan kerendahan hati dari segala pandangan kritik dan saran sangat saya nantika demi kesempurnaan makalah ini, saya ucapkan terima kasih.
Yogyakarta, 15 November 2012

 Penyusunan




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………….    i
KATA PENGANTAR…………………………………………………………..    ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………….    iii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………….    1
A.    Latar Belakang…………………………………………………………..    1
B.    Rumusan Masalah……………………………………………………….    2
C.    Tujuan dan Manfaat…………………………………………………….    2
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………..    3
1.    Pengertian pendidik ………………………………………………….    3
2.    Peran dan fungsi pendidik …………………………………………..    5
3.    Pengertian peserta didik …………………………………………….    6
4.    Tugas dan kewajiban peserta didik …………………………………    8
5.    Pengertian lingkungan pendidikan …………………………………    10
6.    Macam-macam lingkungan pendidikan    …………………………….    10
BAB III KESIMPULAN…………………………………………………………    14
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Konflik merupakan gejala social yang serba hadir dalam kehidupan social, sehingga konflik bersifat inheren, artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap ruang dan waktu, di mana saja dan kapan saja. Di dalam dunia pendidikan sekolahpun permasalahan seperti konflik juga sering terjadi dikarenakan adanya perbedaan status sosial yang dibawa dari kebudayaannya. Oleh sebab itu, konflik dan integrasi sosial  merupakan gejala yang selalu mengisi  setiap kehidupan sosial. Hal-hal yang mendorong timbulnya konflik dan integrasi adalah adanya persamaan dan perbedaan kepentingan sosial. Di dalam setiap kehidupan soial tidak ada satu pun manusia yang memiliki kesamaan yang persis, baik dari unsur etnis, kepentingan, kemauan, kehendak, tujuan, dan sebagainya. Dari setiap konflik ada beberapa di antaranya ada yang dapat, akan tetapi ada juga yang tidak dapat diselesaikan sehingga menimbulkan beberapa aksi kekerasan. Kekerasan merupakan gejala tidak dapat diatasinya akar konflik sehingga menimbulkan kekerasan dari model kekerasan yang terkeil hingga peperangan.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai konflik di dalam suatu lembaga terutama pokok pembahasan kali ini yaitu pada bidang pendidikan yang memfokuskan konflik sosial di sekolah, maka perlu adanya pendukung-pendukung seperti landasan teori tentang konflik itu sendiri, maka dalam bab yang akan pemekalah sajikan yaitu konflik sosial di sekolah yang dilandasi oleh beberapa teori konflik.
B.    Rumusan Masalah
1.    Apa saja macam-macam teori konflik sosial?
2.    Apa yang menyebabkan terjadinya konflik sosial?
3.    Bagaimana hubungan pendidikan dan konflik sosial di sekolah?
C.    Tujuan
1.    Untuk mengetahui macam-macam teori konflik sosial?
2.    Untuk mengetahui penyebab terjadinya konflik sosial?
3.    Untuk mengetahui hubungan pendidikan dan konflik sosial di sekolah?

















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori Konflik Sosial
Sebelum mengetahui beberapa dari macam-macam teori konflik, maka alangkah baiknya terlebih dahulu diberi pengantar tentang pengertian konflik itu sendiri. “Konflik” secara etimologis berasal dari bahasa latin “con” yang berarti bersama dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan. Dengan demikian, “konflik” dalam kehidupan sosial berarti benturan kepentingan, keinginan, pendapat, dan lain-lain yang paling tidak melibatkan dua pihak atau lebih. William Chang mempertanyakan “benarkah konflik social hanya berakar pada ketidakpuasan batin, kecemburuan, iri hati, kebencian, masalah perut, masalah tanah, tempat tinggal, pekerjaan, uang, dan kekuasaan?”, ternyata jawabannya tidak; dan ditanyakan oleh Cang bahwa emosi manusia sesaat pun dapat memicu terjadinya konflik sosial.
Dari pemaparan di atas secara sederhana konflik dapat diartikan sebagai perselisihan atau persengketaan antara dua atau lebih kekuatan baik secara individu atau kelompok yang kedua belah pihak memiliki keinginan untuk saling menjatuhkan, menyingkirkan, mengalahkan atau menyisihkan.
Teori konflik adalah salah satu prspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu system yang terdiri dari berbagai bagian  atau komponen yang mempunyai kepentingan berbeda-beda dimana komponen yang satu berusaha menaklukkan kepentingan yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.
1.    Teori Konflik Mark
Mark mempunyai beberapa pandangan tentang kehidupan sosial yaitu:
a.    Masyarakat sebagai arena yang di dalamnya terdapat berbagai bentuk pertentangan.
b.    Bagi Mark, konflik sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk memperebutkan asset-aset yang bernilai. Jenis dari konflik antara individu, konflik antara kelompok, dan bahkan konflik antar bangsa. Tetapi bentuk konflik yang paling menonjol menurut Marx adalah konflik yang disebabkan oleh cara produksi barang barang yang material.
c.    Karl Mark memandang masyarakat terdiri dari  dua kelas yang didasarkan pada kepemilikan sarana dan alat produksi yaitu kelas borjuis dan proletar.
d.     Kelas borjuis adalah kelompok yang memiliki sarana dan alat produksi yang dalam hal ini adalah perusahaan sebagai modal dalam usaha.
e.    Kelas proletar adalah kelas yang tidak memiliki sarana dan alat produksi sehingga dalam pemenuhan akan kebutuhan ekonominya tidak lain hanyalah menjual tenaganya.
2.    Teori Konflik Ralf Dahrendof
Ralf Dahrendof menyatakan bahwa masyarakat terbagi dalam dua kelas atas dasar pemilikan kewenangan (authority), yaitu kelas yang memiliki kewenangan (dominan) dan kelas yang tidak memiliki kewenangan (subjeksi).
     Secara garis besar pokok-pokok teori ini adalah:
a.    Setiap kehidupan sosial berada dalam proses perubahan, sehingga perubahan merupakan gejala yang bersifat permanen yang mengisi setiap perubahan kehidupan sosial. Gejala perubahan kebanyakan sering diikuti oleh konflik baik secara personal maupun secara interpersonal.
b.    Setiap kehidupan sosial selalu terdapat konflik didalam dirinya sendiri, oleh sebab itu konflik merupakan gejala yang permanen yang mengisi setiap kehidupan sosial. Gejala konflik akan berjalan seiring dengan kehidupan sosial itu sendiri, sehingga lenyapnya kehidupan sosial.
c.    Setiap elemen dalam kehidupan sosial memberikan andil bagi pertumbuhan dua variabel yang saling berpengaruh. Elemen-elemen tersebut akan selalu dihadapkan pada persamaan dan perbedaan, sehingga persamaan akan mengantarkan pada akomodasi sedangkan perbedaan akan mengantarkan timbulnya konflik.
d.    Setiap kehidupan sosial, masyarakan akan terintegrasi di atas penguasaan atau dominasi sejumlah kekuataan-kekuataan lain. Dominasi kekuatan secara sepihak akan menimbulkan konsiliasi, akan tetapi mengandung simpanan benih-benih konflik yang bersifat laten, yang sewaktu-waktu akan meledak menjadi konflik terbuka.
3.    Teori Konflik Jonathan Turner
Turner  memusatkan perhatiannya pada konflik sebagai suatu prosesi pristiwa-pristiwa yang mengarah kepada interaksi yang disertai kekerasan antara dua pihak atau lebih. Dia menjelaskan Sembilan tahapa menuju konflik terbuka. Adapun Sembilan tahap itu adalah sebagai berikut
a.    Sistem social terdiri dari unit-unit atau kelompok-kelompok yang saling berhubungan satu sama lain
b.    Didalam unit-unit atau kelompok-kelompok itu terdapat ketidakseimbangan pembagian kekuasaan atau sumber-sumber penghasilan
c.    Unit-unit atau kelompok-kelompok yang tidak berkuasa atau tidak mendapat bagian dari sumber-sumber penghasilan mulai  mempertanyakan legimitasi system tersebut
d.     Pertanyaan ataslegimitasi itu membawa mereka kepada kesadaran bahwa mereka harus mengubah system alokasi kekuasaan atau sumber-sumber penghasilan itu demi kepentingan mereka
e.    Kesadaran itu menyebabkan mereka secra emosional terpancing untuk marah
f.    Kemarahan tersebuut seringkali meledak begitu saja atas cara yang tidak terorganisir
g.     Keadaan yang demikian menyebabkan mereka semakin tegang
h.    Ketegangan yang semakin hebat menyebabkan mereka mencari jalan untuk mengorganisir diri guna melawan kelompok yang berkuasa.
i.    Akhirnya konflik terbuka bisa terjadi antara kelompok yang berkuasa dan tidak berkuasa. Tingkatan kekerasan dalam konflik sangat tergantung kepada kemampuan masing-masing pihak yang bertikai untuk mendefinisikan kembali kepentingan mereka secara obyektif atau kemampuan masing-masing pihak untuk menanggapi, mengatur, dan mengontrol konflik itu.
   
4.    Teori Konflik Lewis Coser
Teori konflik yang dikemukakan oleh Lewis Coser  sering kali disebut teori fungsionalisme konflik karena ia menekankan fungsi konflik bagi system sosial atau masyarakat. Salah satu hal yang membedakan Coser dari pendukung teori konflik lainnya ialah bahwa ia menekankan pentingnya konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Lewis Coser menyebutkan beberapa fungsi dari konflik yaitu;
a.    Koflik dapat memperkuat solidaritas kelompok yang agak longgar. Dalam masyarakat yang terancam didentegrasi, konflik dengan masyarakat lain bisa menjadi kekuatan yang mempersatukan.
b.    Keompok dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas didalam kelompok tersebut dan solidaritas itu bisa menghantarkannya kepada aliansi-aliansi dengan kelompok-kelompok lain.
c.     Konflik juga bisa menyebabkan anggota-anggota masyarakat yang terisolir menjadi berperan secara aktif.

d.    Teori Konflik C. Wright Mills
Teori konflik C. Wright Mills. Mills adlah salah satu sosiolog Amerika yang berusaha menggabunkan perspektif konflik dengan kritik terhadap keteraturan sosial.
    Jadi dari beberapa teori konflik di maka dapat di ambil kesimpulannya, teori konflik itu elemen-elemen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda sehingga mereka berjuang untuk saling mengalahkan satu sama lain guna meperoleh kepentingan yang sebesar-besarnya. Menurut karl Marx konflik merupakan salah satu kenyataan sosial yang bisa di temukan diman-mana, sedangkan menurut Ralf Dahendorf masyarakat mempunyai 2 wajah yakni konflik dan konsensus, kemudian menurut Jonathan Turner konflik sebagai suatu proses dari peristiwa-peristiwa yang mengarah pada interaksi yang disertai kekerasan antara dua pihak atau lebih, lalu menurut Lewis Coser Ia memusatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi dari konflik, dan yang terakhir menurut C. Wright Mills Ia menggabungkan perspektif konflik dengan kritik terhadap keteraturan sosial.
B.    Penyebab Terjadinya Konflik
C.    Hubungan Pendidikan dan Konflik Sosial di Sekolah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar